METAMORFOSIS KEHIDUPAN YANG FANA
Apa lagi yang harus aku lakukan di usia muda menuju usia dewasa ini?, sedangkan aku sudah memiliki semua yang aku ingingkan. Mulai dari saldo atm yang tidak pernah kosong, uang cash yang selalu ada di dalam dompet, barang-barang branded, emas batangan dan masih banyak lagi. Semua hal yang aku punya dari mana lagi kalau bukan dari orang tuaku.
Ayahku seorang pejabat Negara dan mempunyai bisnis di setiap sektor, dan ibuku juga mempunyai klinik kecantikan yang kini sudah memiliki 10 cabang yang tersebar di pelosok Indonesia. Dan yaa kalian semua benar, aku merupakan anak satu-satunya dari keluarga kecil ini.
Rumahku yang terbilang sangat luas dengan ketinggian 3 lantai membuatku merasa sepi. Ayah dan ibuku sering pergi ke luar kota bahkan ke luar negeri, dan aku hanya tinggal bersama bibi-bibiku alias pembantu rumah tangga yang jumlahnya ada 5 belum termasuk dengan tukang kebun dan juga supir. Sejak kecil aku memang sudah sering ditinggalkan dan hanya di rawat oleh bibi-bibiku. Usiaku kini beranjak 20 tahun, dan aku akan masuk perguruan tinggi bulan Desember nanti, sekitar 5 bulan lagi.
Sejak kecil aku hanya belajar di rumah atau bahasa populernya homescolling. Aku tidak pernah keluar rumah dan berinteraksi dengan tetangga-tetanggaku. Dan munkin ketika aku kuliah nanti pertama kalinya aku akan keluar rumah dan berinteraksi dengan yang lain. Karena pikiranku untuk apa aku keluar, toh aku juga punya salon di dalam rumah, punya stock makanan, dan untuk pakaian serta barang-barang branded selalu dibelikan oleh orang tuaku.
Keperluan rumah bibi-bibiku yang pergi untuk membelinya. Setiap harinya aku hanya bermalas-malasan, mulai dari makan, main gadget, balik lagi ke meja game onlineku, belanja di market place dan begitu saja seterusnya. Sampai-sampai aku tidak pernah ibadah sama sekali, aku sudah lupa bagaimana cara sholat dan aku juga tidak bisa mengaji.
Hidupku di penuhi dengan gaya hidup yang hedonisme, bisanya hanya menghambur-hamburkan uang untuk barang-barang yang tidak penting sama sekali. Dan yaa aku menyadari itu semua. Tapi hanya itu yang bisa aku luapkan ketika aku merasa bosan di rumah. Ayah dan ibuku juga hanya sibuk mencari uang, sampai mereka lupa kalau mereka punya aku sebagai anaknya yang perlu di perhatikan dan di beri pelajaran hidup yang baik.
Karena itu, kenapa sampai sekarang hidupku hanya melakukan aktivitas-aktivitas yang ternyata membawa dampak buruk di kemudian hari. Tepat ketika aku berada di tingkat 3 alias semester 5, aku mendengar ayah dan ibuku berantem karena ayahku terjerat kasus korupsi dan bisnis nya bangkrut. Ketika itu posisiku baru pulang kuliah dan kebetulan ayah dan ibuku sedang berada di rumah. Sudah sekitar 8 bulan mereka selalu ada dirumah, tapi kita semua tidak pernah berkumpul bersama. Tidak lama dari perdebatan orang tua, handphone ibuku bergetar ada yang menelpon, dan ternyata itu karyawannya yang berada di klinik tidak jauh dari rumah.
Dia memberitahu ibuku ternyata bisnis ibuku kena tipu oleh temannya. Ibuku rugi besar, dan pada akhirnya semua cabang harus ditutup dan karyawannya harus di hentikan secara paksa. Dua hari setelah kejadian itu, rumahku disita beserta semua barang yang ada di dalamnya oleh pemilik bank, dan kalian tahu?, ayahku juga masuk ke penjara.
Aku sangat gila saat itu, tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Sedangkan aku sama sekali tidak bisa hidup susah dan juga tidak bisa melakukan bisnis apapun. Kini, aku tinggal berdua bersama ibu disebuah rumah yang sangat sumpek, panas, bau, banyak kecoa dan sama sekali tidak layak untuk ditempati menurutku. Rumah itu pemberian bibiku, kebetulan dia punya rumah kosong bekas ibunya. Setiap malam aku menangis dan menyalahkan ibuku.
Semenjak itu tiba-tiba ibuku ingin diajarkan kembali oleh bibiku mengaji dan sholat, aku juga ikut belajar dua hal itu. Satu minggu kemudia, kami berdua mulai lancar mengaji dan sholat. Dan kini aku tidak pernah ketinggalan untuk sholat dan mengaji. Aku juga mulai berdoa dan memohon ampun kepada yang diatas. Aku rasa, aku masih punya kesempatan untuk itu semua. Hubunganku dengan ibu mulai membaik. Kini ibuku berjualan nasi uduk di depan rumah, dan aku merasa hidupku mulai membaik dan aku mulai bisa menerima semuanya. Tiap minggunya aku rutin menjenguk ayahku di penjara. Dan setelah 10 tahun berlalu, hidupku mulai harmonis, ayahku juga sudah keluar dari penjara.
Usaha ibuku mulai berkembang, kini dia memiliki took sendiri di pinggir jalan. Dan setiap hari Jumat, ia selalu memberikan makanan gratis untuk semua orang yang melewati tokonya. Dari semua kejadian ini aku belajar bahwa hidup mewah belum tentu menjadikan hidup kita berkah. Dan salah satu untuk mencapai keberkahan itu dengan mensyukuri setiap apa yang kita miliki.
Penulis: Hesti Ainun Azhar
Komentar
Posting Komentar