MIMPI SANG ABHISATYA

Di sebuah daerah, yang jauh dari pemukiman aku tinggal berdua dengan ayahku. Namaku Abhisatya, orang yang tidak akan mengalah dengan keadaan. Rumahku berada di tengah persawahan, dan mungkin kalian bisa membayangkan bagaimana hujan dan angin ketika melanda rumahku. Ayahku hanya bekerja serabutan saja. Aku memang hanya tinggal berdua dengan ayah, ibuku telah meninggal 3 tahun lalu karena mengidap penyakit kanker stadium akhir. Aku bukan tidak mengusahakan ibu supaya sembuh, namun Tuhan lebih menyayanginnya. Aku percaya bahwa ibuku sudah bahagia di sisi-Nya.

Aku sangat terpukul ketika ditinggal ibu, karena perempuan satu-satunya yang aku cinta telah tiada. Tapi aku sadar, aku tidak bisa terus menerus terpuruk di kondisi seperti ini. Oh iya, usiaku 18 tahun, dan aku sedang sekolah di salah satu SMA di daerahku. Sekolah disitu memang tidak membutuhkan biaya yang sedikit, tapi untungnya aku mendapatkan beasiswa dari sekolah. Aku memiliki mimpi yang banyak orang katakana bahwa anak sepertiku yang tidak punya apa-apa tidak akan bisa menggapainya. Tapi aku yakin dengan kerja keras serta rajin belajar aku bisa menggapai mimpiku.

Sepulang sekolah, aku tidak seperti anak-anak SMA lainnya, yang kakau pulang bisa bersantay, bermain gadget atau yang lainnya. Tapi aku harus membantu ayah mencari uang untuk mencukupi kebutuhan kita berdua. Biasanya aku membuat kripik talas untuk dijual sore hari keliling kampong. Dan untuk paginya pasti selalu aku bawa ke sekolah untuk di titipkan di kantin. Aku tidak merasa malu dengan semua ini.

Suatu hari di sekolah ada pengumuman bahwa akan diselenggarakan lomba biologi tingkat kabupaten. Tepat sekali tebakan kalian, aku sekolah jurusan IPA, karena aku ingin menjadi seorang dokter dan di sekolahku hanya ada jurusan IPA dan IPS, makanya aku memilih untuk mengambil jurusan IPA. Kembali lagi, setelah pengumuman itu aku ikut seleksi untuk lomba biologi, dan siapa yang lolos seleksi itu dialah yang bisa mewakili sekolah untuk lomba biologi.

Aku sangat semangat waktu itu, hanya saja aku agak sedikit ragu, karena ternyata sainganku anak-anak berprestasi semua. Tapi aku tidak mau kalah dari mereka. Malam harinya, tepat di pukul 20.00 WIB, aku belajar unutk mengikuti seleksi esok hari. Saat itu ayahku sudah tertidur, dan aku belum memberitahunya soal ini. Tapi aku berjanji, setelah aku lolos seleksi aku pasti memberi kabar ini kepadah ayah.

Keesokan harinya di jam istirahat pertama aku melakukan seleksi itu. Aku sangat percaya diri bisa melewati ini semua, karena semalam aku sudah belajar. Di jam pulang sekolah ternyata sudah ada pengumuman seleksi yang di temple di madding. Dan kalian tau, betapa bangga aku sama diriku sendiri, aku berhasil lolos seleksi dengan 2 temanku yang lainnya. Aku berhasil mengalahkan 5 temanku yang lain, karena ada 8 orang siswa yang mengikuti seleksi itu.

Aku langsung bergegas pulang, menyampaikan kabar gembira ini kepada ayahku. Ayah pasti senang mendengar kabar ini, karena dia selalu mendukung apapun yang aku lakukan. Setelahnya, aku langsung belajar lebih giat karena lomba itu akan berlangsung sekitar 2 Minggu lagi. Jam istirahat sekolah, aku selalu menyempatkan waktu untuk belajar bersama ke 2 temanku di perpustakaan. Dan semua dewan guru telah mempercayai lomba ini kepada kami bertiga, makanya kami tidak ingin mengecewakan semua orang.

Singkat cerita hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Detak jantungku berdebar begitu kencang, sampai-sampai aku pulang pergi ke kamar mandi karena saking gelisahnya. Tapi semua itu sudah terbayarkan, aku telah selesai melaksanakan lomba biologi. Dan kini saatnya pengumuman juaranya. Dan kalian tahu, ternyata sekolahku menang lomba itu. Aku sangat bangga, teman-teman dan guruku sangat senang sekali ketika mendengar itu.

Singkat cerita, setelah kejadian itu aku mendapatkan beasiswa sampai aku lulus SMA. Dan setelah SMA aku kembali mendapatkan beasiswa di salah satu Universitas besar dengan jurusan yang aku impikan, yaitu kedokteran. Aku senang sekaligus terharu karena tidak menyangka bisa masuk kuliah jurusan kedokteran. Tepat di tahun 2010 lalu, aku telah menyelesaikan pendidikan kedokteran dengan kurun waktu 3 tahun 5 bulan. Dan kini aku bekerja di salah satu rumah sakit di daerahku. 

Aku juga telah membelikan rumah yang layak untuk ayah. Dan dari semua ini aku percaya bahwa, siapapun dengan mimpi apapun pasti bisa selagi mau usaha dan kerja keras. Dan untuk orang-orang yang merasa lebih tinggi, jangan pernah menjudge bahwa orang biasa sepertiku tidak akan bisa menggapai mimpi setinggi itu. Karena sekarang aku bisa membuktikan bahwa apa yang di bicarakan oleh orang-orang itu salah.


Penulis: Hesti Ainun Azhar

Cerita Pendek (Fiksi)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CARA MENCAPAI KEBAHAGIAAN INTELEKTUAL

CATCALLING

PELECEHAN SEKSUAL